Selamat Hari Guru Nasional 2020



Kristus Tuhan,

Engkau mengenal saya, saya seorang guru.

Saya sendiri tidak tahu kenapa saya jadi guru,

Tetapi saya cukup senang,

Tentu saja Tuhan, pahitnya banyak:

ada murid yang kurang ajar

orang tua yang cerewet,

Pengurus Yayasan yang sok majikan

gaji yang pas-pasan.

Namun itu jadi terlupakan,

jika dibandingkan dengan manisnya:

murid yang lucu dan suka tersenyum,

murid yang sopan, rajin dan cerdas,

murid yang tulisannya rapi,

orang tua yang bijak,

Pengurus Yayasan yang bersahabat.


Apalagi melihat murid yang bertumbuh,

Dulu takut dan ragu-ragu, kemudian menjadi percaya diri,

Dulu malas, sekarang pekerja keras,

Dulu bodoh, sekarang pandai.

Dulu cuma memikirkan diri sendiri, sekarang suka menolong.

Sungguh senang Tuhan, melihat mereka bertumbuh.


Tuhan, saya sering meneteskan air mata,

melihat mantan murid menjadi orang berguna.

Terharu rasanya, kalau ada mantan murid menyapa,

wajahnya hampir lupa,

tetapi ketika dia menyebut nama dan tahun kelas,

saya jadi ingat lagi murid-murid itu.

Memang ada mantan murid yang buang muka,

tapi itu cuma satu dua,

kebanyakan menyapa dan bertanya,

bercerita dan berbagi rasa,

mengucapkan terima kasih dan menimbulkan nostalgia.

Dulu ia masih anak kemarin,

sekarang sudah jadi orang berkedudukan tinggi.

Dulu ia anak kecil, sekarang besar dan dewasa.

Itu kepuasan seorang guru, itu kebanggaan seorang guru.


Tuhan, melihat murid bertumbuh,

membuat saya tidak menyesal menjadi guru.

Dulu ia pemalu, duduk di bangku paling belakang.

sekarang ia menjadi pengurus Yayasan.

Dulu ia nakal dan jarang ke gereja,

sekarang menjadi penatua.

Dia dulu murid saya, saya bangga.

Tetapi Tuhan, ajarlah supaya saya jangan terlalu bangga,

Sebab saya hanya menabur,

mencangkul dan menyuburkan lahan, menyiram dan merawat,

namun Engkaulah yang menumbuhkan.


Tuhan, ajarlah supaya saya pun tidak hanya terpukau pada masa lampau,

melainkan juga memperhatikan masa kini.

Besok pagi saya akan mengajar,

tolonglah saya membuat persiapan yang baik.

Tolonglah saya bangun pagi sekali, supaya saya tiba di sekolah sebelum mereka.

Besok pagi saya mengajar lagi,

karuniakanlah saya badan yang kuat,

pikiran yang segar, hati yang sabar, sikap yang bijak dan jiwa yang ikhlas.

Supaya saya belajar menghargai setiap individu murid,

belajar mendengarkan mereka, memanfaatkan masukan mereka,

menerangkan dengan jelas dan mengajar dengan bermutu.

Tuhan, Engkau tahu, beberapa kali saya hampir berhenti,

tergoda untuk berganti profesi.

Kalau Engkau mau saya meneruskan semua ini,

karuniakanlah saya hati yang tabah dan setia,

supaya saya terus menjadi guru, sampai tuntaslah masa bakti ini,

bakti kepadaMu, ya Tuhan.


Kalau nanti segala karyaku ini purna,

hanya satu yang saya minta,

Kiranya Engkau berkenan atas pekerjaanku.

Kiranya Engkau menerima dengan baik apa yang kukerjakan.

Biarlah ada orang lain yang meneruskannya, biarlah murid-muridku terus bertumbuh.

Inilah hidupku bagiMu, ya Tuhan, hidup seorang guru.

Hanya ini yang dapat kuberikan kepadaMu.

Saya akan meninggalkan pekerjaan ini dengan syukur.


Tuhan, tidak apa-apa kalau kelak tidak ada mantan muridku,

yang mengantarku ke peristirahatan terakhir.

Yang penting bukan siapa yang mengantar,

tetapi siapa yang menjemput.

Kristus Tuhan, Engkau akan menjemput saya, bukan ?

Engkau akan menjemput saya dengan senyuman,

dengan pelukan yang terasa hangat. Lalu Engkau berkata :

"Mari, hai kamu yang diberkati oleh BapaKu,

Sebab ketika aku belum bisa menulis dan membaca,

kamu mendidik Aku.

Ketika Aku keliru, kamu menegur Aku.

Ketika Aku berprestasi, kamu memuji Aku, kamu mendidik Aku.

Hai kamu penabur yang baik dan setia, mari masuklah dan

terimalah Kerajaan yang Kusediakan bagimu" Amin.



Dari buku : Selamat Menabur

Karya : Dr. Andar Ismail






17 views0 comments

Recent Posts

See All