HSKI 2026 SDH Daan Mogot: Mengajak Gen-Z & Alpha Berhenti Sejenak untuk Merenungkan Proses Kehidupan
- 20 hours ago
- 2 min read

Di tengah dunia remaja yang bergerak cepat—ditandai dengan target akademik, gawai, dan distraksi tanpa henti—ribuan murid dan guru berkumpul dalam satu ruangan yang sama. Bukan untuk mengejar nilai atau peringkat, melainkan untuk berhenti sejenak, merenung, berdoa, dan mengingat kembali mengapa pendidikan dimulai.
Dalam rangkaian HSKI 2026 SDH Daan Mogot, sekitar 2.500 murid dan guru dari berbagai sekolah Kristen di Jakarta, Bekasi, Depok, dan Banten menghadiri Revival Worship di GKY Mangga Besar pada Selasa (20/01/2026), sehari setelah Doa Serentak Sekolah Kristen se-Indonesia.
Doa Serentak Sekolah Kristen mengusung gerakan 7 pokok doa, termasuk mendoakan guru, murid, dan sekolah. Dalam momentum ini, SDH Daan Mogot menjadi pusat relay doa, mengambil bagian aktif dalam gerakan nasional tersebut.
Tema tahun ini, “Menanam Iman, Menumbuhkan Masa Depan”, terasa lebih dari sekadar slogan. Ia menjadi pengingat bahwa pendidikan adalah proses panjang menanam benih, yang hasilnya tidak selalu terlihat segera.
Ketua Umum MPK Indonesia, Handi Irawan, menegaskan bahwa sekolah Kristen dipanggil menjadi berkat bagi bangsa dan dunia—bukan hanya lewat prestasi, tetapi melalui karakter dan nilai hidup yang kokoh.
Firman Tuhan dari Yohanes 12:24 menjadi pusat perenungan. G.I. Andrey Thunggal mengajak peserta memahami bahwa benih harus mati agar dapat berbuah. Dalam konteks pendidikan, pengorbanan, ketekunan, dan pembentukan karakter sering kali lebih menentukan daripada sekadar transfer pengetahuan.
Pendidikan karakter adalah fondasi yang menopang masa depan anak-anak.
Refleksi tersebut menemukan wujud nyata dalam kesaksian Jerome Polin. Sosok yang dikenal luas sebagai figur edukasi ini justru mengawali ceritanya dari keterbatasan—ketidaksukaan pada matematika dan perjuangan panjang dalam membangun disiplin.
Jerome menyadari bahwa keberhasilannya tidak terlepas dari pembentukan karakter di sekolah Kristen sejak usia dini. Bersama sang kakak, Jehian Polin, ia menegaskan bahwa iman bukanlah sesuatu yang terpisah dari dunia modern. Justru di tengah era digital, iman menjadi jangkar yang menjaga arah.
Di akhir rangkaian Revival Worship, semboyan “Fructus in Altum” kembali digaungkan—sebuah ajakan untuk menanam lebih dalam, merawat dengan setia, dan menantikan buah pada waktunya.
Di tengah dunia yang terus bergegas, HSKI 2026 SDH Daan Mogot mengingatkan bahwa masa depan tidak dibangun dalam sekejap, melainkan melalui benih iman yang ditanam hari demi hari.
(IIHMW)





















Comments