Senior school sdh

 Ready

 For 

 New Normal

Pendidikan Transformasi: Menyentuh dan Mengubahkan Hati Murid Melalui Pelayanan Pastoral.



Setiap pendidik Kristen perlu memahami bahwa mengajar atau mendidik tidak cukup dipahami sebatas pekerjaan profesional, tuntutan, ataupun identitas belaka, melainkan sebuah panggilan yang membawa misi Allah bagi dunia. Misi Allah melalui Pendidikan Kristen adalah menuntun murid pada restorasi dan pemulihan diri sebagai Image of God di atas dasar kebenaran alkitabiah (Handoyo, 2020). Pemahaman ini memberikan arah dan tujuan yang jelas bahwa pendidikan Kristen dan pengajaran yang terjadi di dalamnya tidak hanya berfokus pada penyampaian materi pembelajaran, pencapaian prestasi akademik, keterampilan dan mempersiapkan murid untuk masa depannya. Pendidik Kristen memikul panggilan untuk menyentuh dan mengubahkan hati murid.


Menyentuh dan mengubah hati murid bukanlah sebuah perkara yang mudah. Di tahun pertama saya mengajar di unit SDH jenjang SMA, saya sangat menggumuli hal ini. Kurangnya pengalaman dalam berinteraksi, memahami karakteristik, kebutuhan, masalah dan pergumulan yang murid rasakan, acapkali membuat saya overthink dan kesulitan untuk menjalankan misi Allah melalui pelayanan saya sebagai guru mata pelajaran Biologi dan wali kelas 12. Terlibat dengan murid dan mampu memposisikan diri dengan apa yang sedang murid rasakan merupakan cara terbaik bagaimana kita dapat menyentuh hati murid dan mengubah kehidupan mereka seturut dengan kehendak Allah. Ketika saya diperhadapkan dengan murid yang berperilaku kurang sopan, kurang disiplin dan tidak memiliki motivasi dalam mengikuti pembelajaran, membuat saya berpikir bahwa salah satu langkah penting yang terlebih dahulu harus dilakukan adalah menyentuh dan mengubahkan hati murid hingga membawa perubahan dalam tindakan, perilaku dan perkataannya.


Menyentuh dan mengubahkan hati murid merupakan jantung dalam pendidikan Kristen. Mengapa demikian? Paul Tripp (2012) dalam sesi seminarnya yang berjudul “Your Christian School: A Culture of Grace?” menyatakan bahwa hati merupakan pusat kehidupan, tempat pikiran, perasaan, emosi, nilai dan keinginan. Jika konsep ini dikaitkan dengan kehidupan murid, kita akan melihat bahwa tingkah laku murid lebih disebabkan oleh apa yang ada dalam diri mereka daripada apa yang ada di luar diri mereka, sebab tindakan atau perilaku tersebut berakar dari hati. Oleh karena itu sebagai guru Kristen, kita tidak bisa mengabaikan masalah hati karena bisa saja inti dari semua yang murid kita lakukan berasal dari masalah internal, yaitu hati yang membuat murid berfokus pada diri mereka sendiri.


Proses mengubahkan hati murid tidak terjadi secara instan dan tidak selamanya sesuai dengan apa yang kita ekspektasikan. Selain itu, kita juga perlu memahami bahwa kita hanyalah alat Tuhan untuk menuntun, mengingatkan dan mengarahkan murid ke jalan yang benar. Selebihnya, itu adalah pekerjaan Allah melalui peranan Roh Kudus yang menyentuh dan mengubahkan kehidupan murid. Di dalam menjalankan misi Allah ini, kita perlu dengan kerendahan hati meminta pimpinan Allah dalam menuntun perubahan dalam diri murid. Senjata terkuat yang harus kita miliki dan tampilkan kepada murid adalah kasih. Kristus adalah kasih, sehingga ketika kita ingin menunjukkan Kristus kepada murid di dalam pembelajaran, kita juga harus mengasihi mereka tanpa batas sama seperti kasih Kristus yang telah kita rasakan. Lalu bagaimanakah kita menunjukkan kasih dalam misi pelayanan kita yang yang mengubahkan hati murid? Jawabannya adalah melalui pelayanan pastoral.


Pelayanan pastoral (pastoral care) merupakan fondasi penting dalam aktivitas pembelajaran di sekolah yang melibatkan pengembangan seluruh aspek murid. Pelayanan pastoral dapat dijadikan sebagai wadah untuk menjangkau hati murid. Atribut dari pelayanan pastoral adalah adanya relasi yang kuat antara guru dengan murid yang juga melibatkan keluarga murid di dalam prosesnya. Kualitas dari pelayanan pastoral yang diberikan akan memengaruhi aktivitas pembelajaran dan pengajaran di dalam kelas.


Pelayanan pastoral penting untuk dilakukan apalagi di masa pandemi ini. Selama pandemi Covid-19, murid lebih banyak menghabiskan waktu mereka di rumah dan mengikuti aktivitas pembelajaran dengan pengawasan yang sangat minim dari guru maupun orang tua. Hal ini berdampak pada perubahan sikap, motivasi dan karakter murid ketika kembali dihadirkan untuk mengikuti pembelajaran secara tatap muka di sekolah. Terdapat perubahan di area readiness, respect, dan responsibility murid serta relasi murid dengan temannya dan murid dengan guru. Oleh karena itu, pelayanan pastoral menjadi langkah penting yang perlu dilakukan oleh guru di dalam proses menuntun murid untuk mengalami perubahan ke arah yang lebih baik. Pelayanan pastoral dapat dilakukan dengan pendekatan proaktif.


Memberikan pendampingan kepada murid.

Di dalam proses pembelajaran, pastinya ada beberapa murid yang perlu untuk kita dampingi. Kesulitan dalam memahami materi pelajaran, pengerjaan dan pengumpulan tugas, serta relasi murid dengan temannya di dalam kelas. Pendampingan tersebut dapat kita lakukan di dalam kelas maupun di luar kelas dengan menyediakan waktu untuk berbicara dan membantu murid yang sedang membutuhkan bantuan kita.


Memberikan telinga yang mendengarkan cerita murid.

Pada bagian ini, pelayanan pastoral dapat kita berikan dengan menjadikan diri kita sebagai tempat di mana murid dapat nyaman untuk bercerita, menyampaikan pergumulan, perasaan senang, kesulitan, atau apapun yang sedang ia rasakan sehingga memberikan ruang bagi kita untuk menuntun dan membantu setiap murid dengan segala cerita yang dimilikinya.


Membangun komunikasi yang positif dengan murid.

Di dalam aktivitas pembelajaran, kita dapat menyentuh hati murid melalui pemberian motivasi, dorongan, kata-kata penyemangat, pujian dan teguran kasih yang secara perlahan dapat mengarahkan mereka untuk mengalami perubahan dalam pikiran dan hati.


Pengajaran yang disampaikan dengan pendekatan yang kontekstual.

Pengajaran yang kontekstual akan menuntun murid untuk tidak hanya sebatas memahami materi pelajaran namun lebih daripada itu, murid dapat melihat bagaimana pelajaran yang mereka peroleh dapat berdampak bagi masa depan mereka. Contohnya, ketika murid sedang mempelajari tentang sistem pencernaan, kita tidak hanya mengajarkan proses dan mekanisme apa saja yang terjadi dari rongga mulut hingga anus. Murid dapat dituntun memikirkan apa yang terjadi ketika mereka tidak menjaga pola makan yang teratur bagi sistem pencernaan tubuhnya, lalu hal apa yang perlu untuk dilakukan untuk menjaga sistem pencernaan. Pengajaran yang dihubungkan dengan kehidupan murid sehari-hari menjadi salah satu pendekatan yang efektif untuk menghadirkan pelayanan pastoral kepada murid.


Melakukan pertemuan dengan orang tua murid.

Keterlibatan orang tua menjadi salah satu pendekatan pelayanan pastoral yang tidak boleh dikesampingkan. Orang tua berhak mengetahui perkembangan anaknya dan guru juga perlu untuk mengenal murid dari orang tuanya. Targetnya adalah membina hubungan yang positif dan sehat antara anak dengan orang tua yang juga berdampak pada aktivitas pembelajaran murid di sekolah.

Pelayanan pastoral juga dapat menjadi sarana untuk memproklamirkan Kristus di dalam diri murid; di dalam pendampingan murid di dalam aktivitas kelas, mendengarkan cerita murid, pemberian kata-kata penyemangat atau motivasi di dalam kelas, ataupun di dalam pengajaran yang kontekstual. Targetnya adalah bagaimana pengajaran yang kita berikan dapat mentransformasi kehidupan murid sehingga di dalam kehidupannya murid mengenal Kristus sebagai Sang Juruselamat dan hidupnya dapat menjadi berkat bagi orang lain.


Referensi:

Handoyo, Y. (2020). The seven laws of teaching for christian education. Diligentia Journal of Theology and Christian Education, 2(2), 68-81. doi:10.19166/dil.v2i2.2047


Tripp, P. D. (2012). Your christian school: A culture of grace. Retrieved from The Paul Tripp: https://www.paultripp.com/your-christian-school


Penulis:

Sioratna Puspita Sari, S.Pd, B.Ed. Guru Biologi di jenjang SMP hingga SMA di SDH Lubuklinggau, Lubuklinggau